Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja

Rona-Rona

DETAIL
Kategori : Fiksi
100 Indonesia
ISBN : 9786026143488
Bahasa Indonesia
Halaman 100 halaman
Stock: 2
Penerbit: Pataba
Penulis: Soesilo Toer
Berat : 0.10 Kilo

DESKRIPSI

Ke mana, hendak kucari

kekasih hati, jauh pergi

Hatiku merintih sayu

Datanglah dikau ke pangkuanku

Tapi mengapa, dikau tak kunjung datang

Menghibur Hatiku nan sedang rindu siang-malam

Biar daku melagu

Wajahmu bening dan bersemayam di hatiku

***
Rona-rona adalah salah satu naskah dari mendiang Koesalah Soebagyo Toer yang kami temukan dalam computer peninggalannya dan belum pernah diterbitkan. Ketika ditemukan, naskah ini masih berupa gambar hasil scan naskah asli. Setelah kami ketik ulang, kami ditambahi dengan tiga puisi lain yang berhasil kami temukan dalam proses pencarian tulisan-tulisan lama keluarga Toer, dan kami gabungkan dengan puisi dari Soesilo Toer, maka jadilah buku yang sedang Anda pegang ini. 

Pada awalnya kami hanya ingin menerbitkan buku ini khusus berisi puisi dari Pak Koesalah Soebagyo Toer, tapi karena Soesilo Toer, menurut pengakuannya sendiri, kurang menyukai puisi, sehingga hanya menulis sedikit sekali puisi layaknya sang kakak, Pramoedya Ananta Toer, setelah kami bahas soal buku ini dengan Ibu Utati, Istri mendiang Koesalah Soebagyo Toer, maka kami memutuskan untuk menggabungkan puisi keduanya. 

Penambahan puisi dari koesalah Soebagyo Toer kami ambil dari majalah Duta Suasana 1 September 1952 halaman 15 berjudul “Jembatan”, majalah Pentja 15 April 1953 No. 21 Th. III halaman 14 berjudul “Mana… Mana…” dan majalah Garuda nomor 6 thun 1953 halaman 23 berjudul “Laksana Ombak.” Sementara untuk puisi berjudul “Kerusakan” yang dimuat dalam majalah Merdeka 16 Juli 1955 halaman 16 juga termuat dalam scan gambar tertanggal 16/6/55.

Memang selama ini Koesalah Soebagyo Toer lebih dikenal sebagai penerjemah andal, tapi siapa sangka kalau ternyata beliau juga menulis kronik, memoir, cerita anak-anak, puisi, dan bahkan lagu. Dan, siapa yang menyangka pula kalau Soesilo Toer, (Termasuk Pramoedya Ananta Toer) yang tidak menyukai puisi karena, katanya, tidak mengenyangkan, ternyata juga pernah membuat puisi. Bedanya, kalau pada awalnya Pramoedya Ananta Toer tidak mau mengakui “anak rohaninya” tersebut, sementara Soesilo Toer justru tidak ingat bahwa ia pernah menulis puisi yang dimuat di majalah di mana Koesalah Soebagyo Toer menjadi redaktur. Ternyata benar-benar ada mafia di dalam dunia sastra Indonesia, dan mereka adalah keluarga Toer. Selamat Membaca!

 

Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Terakhir DIlihat

PEMBAYARAN

 

 

PENGIRIMAN