Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Outlier: Rahasia di Balik Kesuksesan Pada Batas Setiap Masakini

Pacarku Memintaku Jadi Matahari

DETAIL
Kategori : Fiksi
180 Indonesia
ISBN : 9786026651198
Bahasa Indonesia
Halaman 180 halaman
Stock: 1
Penerbit: Basabasi
Penulis: Reza Nufa
Berat : 0.25 Kilo

DESKRIPSI Pacarku Memintaku Jadi Matahari

Mau memiliki perangkat, pelacuran, perangkat pelacuran, pelacuran para perangkat, abaikan. Panjang atau pendeknya kisah, tidak lagi jadi beban dalam cerita-cerita Reza Nufa. Bahkan, ia mengobrak-abrik kemapanan tata-tertib peristiwa; mengencingi relasi kausalitas; merayakan akibat-akibat tanpa awal mula.

Seperti memasuki sebuah kota pasca wabah demensia, saya sempat tersesat di daerah dengan orang-orang bawel. Mereka membicarakan apa saja yang melintas dalam kepala—seakan mumpung belum hilang. Kota-Kota Peristiwa yang semacam ini sepertinya dibangun bukan sebagai wahana solusi kependudukan dan populasi.

Kota teks-kisah itu dibagun untuk merayakan kekecawaan manusia atas hidup dan mati—satu; atas manusia hidup dan manusia mati yang lain—dua, dan atas Yang Membuat Manusia Hidup dan Mati dan Yang Membuat Manusia Hidup Bersama Manusia Hidup dan Bersama Manusia Yang Mati—tiga. Ia mengajari kita cara merayakan batas antara kesadaran dan kegilaan dengan cukup brilian.

Dengan latar urban, seks, alkohol, dan cinta, ironi-ironi kadang melesat. Kadang, tersendat. Ia merangkai yang tak terkira. Apa yang melesat kepala dipasang. Apa yang ada di sekitar dicentang. Ia mengejutkan karena tak terukur. Karena, “ngawur”. 

Namun demikian, ada kesan lain yang tak kalah penting. Di balik gairah ekspresif, makian, personifikasi, ungkapan-ungkapan unik, ada ritme yang berulang. Ada alam bawah yang menjadi filosofi kota-kota kisahnya—sadar atau tidak sadar. Ada yang semacam alarm berulang di Kota Pyongyang pada pukul lima pagi.

Kehilangan, berulang. Kematian, berulang. Cinta yang tak wajar, berulang. Menunggu yang tak pasti, berulang. Perjalanan, berulang. Gunung, berulang. Film dan lagu-lagu, berulang. Yang patah dan dipatahkan, berulang. Yang tarik-ulur dengan Yang Gaib, berulang. Yang kesemuanya bertemu dalam titik dua.
Yakni, kecewa.

Dengan menemukan ini di sela-sela pondasi kota-kisahnya, saya telah mendapati penguhuni-penghuni kota yang sebagian besar kecewa. Dan Anda harus segera bertemu dengan mereka.

(Eko Triono)


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit