Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Jalan Cinta Para Pejuang Perang Salib: Sudut Pandang islam

Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam

DETAIL
Kategori : Non Fiksi
240 Indonesia
ISBN : 978-602-291-438-9
Bahasa Indonesia
Halaman 240 halaman
Stock: Out Of Stock
Penerbit: Bunyan
Penulis: Ahmad Syafii Maarif
Berat : 0.25 Kilo

DESKRIPSI Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam

Dalam buku ini, Ahmad Syafii Maarif, cendekiawan dan guru bangsa, merangkum serangkaian pemikiran kritis beliau terhadap apa yang disebut dengan penuh haru oleh sebagian komunitas Muslim tentang "The Golden Ages of Islam".

Peradaban Islam memang berkembang hingga mencapai puncak-puncaknya yang tertinggi. Namun, kita perlu memahami bahwa semua itu juga dibangun di atas darah umat Islam yang berbeda pandangan politik.

Pada kenyataannya, nafsu kekuasaan tanpa didampingi kekuatan moral yang tangguh, pasti merusak. Agama sering benar tidak berdaya. Rasa haus akan "kejayaan" mengalahkan sisi kerohanian manusia. Akibatnya, bahkan masih bisa kita rasakan sampai hari ini. Kita terpasung dalam kotak-kotak politik akibat ulah perseteruan elite Arab Muslim itu. Sekarang, mampukah kita sungguh-sungguh kembali pada pesan suci Al-Quran dan sunah Nabi, serta mengucap selamat tinggal pada kotak-kotak penuh darah dan dendam kesumat itu?

 

 

'Lewat buku ini, sosok Buya Syafi'i seolah tengah menggosok cermin dan meminta kita berkaca mengambil pelajaran dari krisis dunia Islam yang bikin miris. Penuh makna mengurai fakta!''

—Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama di Australia-New Zealand

''Membaca buku ini dan mengetahui usia Buya Syafii Maarif, sudah sepatutnya beliau ini dicemburui banyak orang. Beliau tetap produktif dan menyumbangkan pikiran-pikirannya tanpa ragu sedikit pun dengan sudut pandangnya. Sudah menjadi karakteristik seorang Buya Syafii dalam gaya bicara dan tulisannya yang langsung pada pokok persoalan. Tulisan-tulisannya dalam buku ini sangat tajam menghunjam.

—Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A., pendiri Pusat Studi Al Quran (PSQ)

''Dalam tiga dasawarsa terakhir-khususnya sejak 9/11/2001-Dunia Arab kian terjerumus ke dalam limbo krisis akut yang sudah seolah menjadi 'unbroken vicious circle', lingkaran setan yang tak bisa terselesaikan. Inilah salah satu titik nadir Dunia Arab. Adakah harapan untuk masa depan? Jawabannya ada dalam buku Buya Prof Syafii Maarif ini. Karya ini tak lain adalah buku wajib bagi setiap dan seluruh orang dan pihak yang ingin belajar dari sejarah untuk tidak mengulangi kedunguan jatuh ke dalam lubang krisis yang sama dari waktu ke waktu. Dengan begitu setiap dan seluruh pembaca dapat menjaga Indonesia agar tidak terjerumus ke dalam kenestapaan dan ironi Dunia Arab; bersyukur dengan Indonesia yang aman, stabil dengan ekonomi yang terus bertumbuh sehingga lebih menjanjikan masa depan peradaban Islam yang maju dan damai.''

—Prof. Azyumardi Azra, CBE, Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

''Buya Syafii Maarif adalah salah seorang sejarawan dan sarjana ahli studi Islam dan Timur Tengah yang sangat langka di Indonesia. Tulisan-tulisannya tentang dinamika sejarah dan perkembangan Islam, masyarakat Muslim, dan Timur Tengah sangat bernas, valid, dan faktual. Seperti ditunjukkan dalam buku ini, Buya Syafii dengan cerdas, jeli, tajam, jujur, dan blak-blakan 'menguliti' problematika dunia Islam, kaum Muslim dan masyarakat Timur Tengah yang sepanjang sejarahnya tak pernah sepi dari perang dan kekerasan. Namun, buya bukan hanya mengkritik seperti umumnya kaum orientalis. Ia menawarkan solusi dan 'resep mujarab' agar agama dan umat Islam yang ia cintai dengan sepenuh hati itu mampu bangkit dari kemunduran, kejumudan, dan keterpurukan, serta supaya dunia Islam kembali menjadi 'mercusuar peradaban' yang gemilang pada masa datang.''

—Sumanto Al Qurtuby, Ph.D., Dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, dan visiting senior scholar di Middle East Institute, National University of Singapore

''Penyebutan Muslim di wilayah pusat (central) dan pinggiran (periphery) oleh para pengamat sedang diuji keakuratannya. Umumnya orang melihat wilayah pusat lebih unggul, lebih otentik daripada wilayah pinggiran. Namun yang terjadi, Muslim di wilayah pusat sedang mengalami degradasi dan perpecahan yang luar biasa. Buya Syafii sedang menggugat realitas ini. Harapan tinggal pada Muslim di wilayah pinggiran seperti Indonesia. Fazlur Rahman sejak 1982 telah memprediksi ini dalam bukunya, Islam & Modernity. Muslim Indonesia dituntut untuk berpikir dan beragama lebih jenuin, kreatif, dan arif agar terhindar dari malapetaka perpecahan yang terjadi di wilayah Arab-Timur Tengah. Buku ini ditunggu kehadirannya oleh banyak kalangan.''

—Prof. M. Amin Abdullah, Guru Besar Ilmu Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit