Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Marhaen dan Wong Cilik Markesot Belajar Ngaji

Marhaenis Muhammadiyah

DETAIL
Kategori : Non Fiksi
324 Indonesia
ISBN : 9786028174404
Bahasa Indonesia
Halaman 324 halaman
Stock: Out Of Stock
Penerbit: Galang Press
Penulis: Abdul Munir Mulkhan
Berat : 0.40 Kilo

DESKRIPSI Marhaenis Muhammadiyah

"Islam yang kita catut dari Kalam Ilahi dan sunnah bukan apinya, bukan nyalanya, tapi abunya, debunya...ach, ya asapnya, abunya yang berupa celak mata dan surban, abunya yang bisanya cuma Fatihah dan Tahlil, bukan apinya yang menyala-nyala dari ujung zaman satu ke zaman yang lain."
--Sukarno, 1940

Memperjuangkan marhaen berarti juga memperjuangkan kaum duafa."
--Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A., Ketua Umum PP Muhammadiyah

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukanlah kesatuan entitas yang seragam atau homogen. Keberagaman model kepengikutan itu muncul karena adanya gesekan manakala doktrin tarjih Muhammadiyah pascakepemimpinan Kiai Ahmad Dahlan diberlakukan secara kaku. Konsep Islam murni syariahistis itu akibat dari mendominasinya elite ahli syariah yang ingin memusnahkan tradisi TBC (tahyul, bid’ah, dan c(k)hurafat), bahkan tak jarang cara-cara kekerasan ditempuh demi menegakkan syariah. Gerakan pemurnian Islam seperti itu jelas berseberangan dengan latar belakang kultural masyarakat desa yang mayoritas bermata pencaharian petani. Mereka tertarik bergabung dengan Muhammadiyah manakala gerakan yang menawarkan pembaruan ini meluas ke pedesaan.

Sangatlah wajar apabila kaum petani itu merasa asing dengan konsep Islam fundamentalis. Sebaliknya, mereka justru merasa nyaman dengan pola pemurnian Islam yang dibawa oleh Kiai Ahmad Dahlan yang mengedepankan kesalehan spiritual. Karena pergulatan ideologi itulah, muncullah model kepengikutan yang dinamakan Marhaenis Muhammadiyah, nama sebutan bagi sekelompok orang di suatu tempat di pedesaan, persisnya di Wuluhan, Jember, Jawa Timur, yang kemudian menjadi pengikut Muhammadiyah. Bagi kaum tani, menjadi Muhammadiyah akan memiliki arti apabila sesuai dunia makna magis, bukan etis. Upacara ritual TBC, diubah maknanya sebagai tradisi dan sebagai media berbuat baik dan berbakti kepada ”orang tua” atau untuk membangun jaringan dakwah. TBC tidak serta merta ditolak, tapi Islam murni di-pribumisasi, sehingga taklid, slametan kematian, dan tahlilan merupakan gejala umum yang dianut pengikut gerakan ini.

Marhaenis Muhammadiyah ibarat ”teologi petani” atau ”jalan baru” Islam yang bisa mendorong etos kerja produktif serta mengembangkan pemikiran Islam yang inklusif. Dari sinilah, kehidupan masyarakat pluralis demokratis tumbuh dengan subur.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit