Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Konferensi Asia-Afrika 1955: Asal-Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Antiimperialisme Konsierto di Kyoto

Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan

DETAIL
Kategori : Non Fiksi
208 Indonesia
ISBN : 9786028174121
Bahasa Indonesia
Halaman 208 halaman
Stock: Out Of Stock
Penerbit: Galang Press
Penulis: Lian Gogali
Berat : 0.20 Kilo

DESKRIPSI Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan

Hidup tidak pernah sama lagi sejak peristiwa konflik di Poso terjadi. Kenyataan ini dialami seluruh masyarakat Poso saat ini. Peristiwa di bulan Desember 1998 menjadi awal dari perubahan tatanan kehidupan masyarakat Poso secara drastis. Para perempuan, laki-laki dewasa, orangtua, remaja, anak-anak, lanjut usia, segala usia dari segala lapisan dan latar belakang, tanpa terkecuali, terseret, dipaksa masuk dalam tepian dan pusaran konflik kekerasan berdarah yang berkepanjangan. Sebagian dipaksa terlibat untuk sekadar bertahan atau untuk menyerang demi mempertahankan diri.

Banyak tulisan tentang Poso. Namun, narasi tulisan-tulisan itu hampir selalu “milik laki-laki“ . Sedikit sekali ruang artikulasi bagi perempuan dan anak-anak. Sistem telah menyingkirkan mereka dari ruang bicara.

Padahal, membicarakan kekerasan atas perempuan dan anak-anak adalah upaya mengangkat narasi kesenyapan mereka. Buku ini mengalirkan semangat betapa ingatan-ingatan perempuan dan anak-anak mampu menggambarkan konstruksi identitas sebuah komunitas sosial pascakonflik Poso. Dalam hal inilah mereka menjadi ruang bagi rekonsiliasi ingatan.

“Poso sudah menjadi identik dengan konflik. Dan, media massa acapkali menikmati gambaran pertempuran atau aksi-aksi kekerasan pihak-pihak yang bertikai sehingga mengabaikan kisah-kisah mereka yang terjepit sekian kepentingan dan menjadi korban terbesar, yaitu perempuan dan anak-anak. Lian Gagali dengan ulasannya yang lugas dan menyentuh buka saja memberi kesempatan bersuara bagi mereka yan selama ini terbungkam, tetapi juga membuka ruang bagi kita untuk membangun pemahaman dan empati terhadap kepiluan dan harapan sesama warga bangsa ini.” –Agung Ayu Ratih, peneliti di Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI)


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit