Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Kumpulan Cerita Rakyat Cina Sarapan Pagi Penuh Dusta

Mimpi Orang Sinting

DETAIL
Kategori : Fiksi
249 Indonesia
ISBN : 978-602-73284-8-8
Bahasa Indonesia
Halaman 249 halaman
Stock: Out Of Stock
Penerbit: Kakatua
Penulis: Fyodor Dostoevsky
Berat : 0.30 Kilo

DESKRIPSI Mimpi Orang Sinting

 

 

 

Buku ini memuat kumpulan novelet dan cerpen: Malam-Malam Putih, Pencuri yang Jujur, Pesta Natal dan Pernikahan, Polzunkov, Pohon Natal Surgawi, Si Lembut Hati, Mimpi Orang Sinting.

Dua novelet dan lima cerita pendek yang ada dalam buku ini hadir di hadapan sidang pembaca untuk lebih menyemarakkan sastra terjemahan dari Rusia, terutama melengkapi keberadaan karya sastra terjemahan karangan Dostoevsky yang sudah ada sebelumnya. Hampir sebagian besar cerita Dostoevsky dalam kumpulan cerita ini berpusat pada kehidupan orang-orang berlatar belakang kelas menengah yang mengalami kemerosotan status sosial-ekonomi dan orang-orang yang terasing atau terpinggirkan dari kemapanan tatanan sosial Rusia masa itu. Mereka mengalami dilema moral yang akut agar bisa menyatu dengan kehidupan di sekitarnya. Itulah sebabnya tokoh-tokohnya cenderung bersikap canggung dalam interaksinya dengan orang lain. Tokoh utama yang tak pernah disebutkan namanya dalam cerita Mimpi Orang SintingMalam-Malam Putih, si tokoh perempuan dalam cerita Si Lembut Hati, dan narator dalam cerita Pesta Natal dan Pernikahan adalah contoh paling jelas bagaimana kemerosotan ekonomi dan sosial yang dialami mereka membuat mereka akhirnya memutuskan berjarak dengan arus kehidupan yang mengalir di sekitar mereka. Sementara tokoh Emelyanoushka (Emelyan Illitch) dalam kisah Pencuri yang Jujur dan anak kecil dan orang tuanya di cerita Pohon Natal Surgawi adalah representasi dari residu masyarakat Saint Petersburg yang tak mendapatkan tempat dalam apa yang biasa disebut sebagai ‘kehidupan normal.’

Meski tak memiliki intensi untuk menulis cerita yang pendek—sejumlah cerita pendek dalam buku ini berasal dari diari Dostoevsky—, apa yang telah disuguhkan oleh Dostoevsky dalam dua cerita agak panjang dan lima cerita pendeknya sangat kuat dan meninggalkan pengaruh besar pada kisah-kisah yang dikarang penulis selanjutnya. Dua abad setelah Dostoevsky menuliskan kisah-kisahnya, kita masih belum bisa menemukan kepiawaian seorang penulis dalam mendeskripsikan motif-motif tindakan dan pikiran manusia semendalam Dostoevsky. Dostoevsky nyaris tak memiliki pretensi untuk unjuk penguasaan ilmu pengetahuan atau penguasaan kemampuan filsafat secara vulgar dalam cerita yang ia karang. Ia tak mau pula membebani kisah-kisahnya dengan sesuatu di luar itu. Sependek pengetahuan penulis ia hanya ingin menghadirkan deskripsi tentang orang-orang Petersburg dan kehidupan yang mereka jalani. Dalam kisah Mimpi Orang Sinting, misalnya, tanpa perlu repot menyitir asal-mula kehidupan manusia seperti para filosof Yunani atau dari para teolog kristen, ia menghadirkan kisah fantasi tentang kehidupan pasca kematian lewat medium mimpi si tokoh utama. Kehidupan pasca kematian yang ia deskripsikan lewat mimpi tokoh utama ini bisa memberi tantangan tentang teori evolusi atau pandangan-pandangan teologis tentang asal-mula kehidupan. Pada saat yang sama ia bisa berkontribusi pada penjernihan pandangan kita tentang bagaimana kehidupan manusia di dunia ini.

Pilihan Dostoevsky untuk tak memposisikan sastra sebagai catatan kaki filsafat, ilmu-ilmu sosial, dan pandangan teologi ini bisa dilacak dari kemarahan terselubung atau bahkan tanpa tedeng aling-aling dalam dirinya terhadap kondisi masyarakat Rusia masa itu, terutama pada inferioritas kultural kelas menengah dan elite Rusia di hadapan kebudayaan Perancis. Ia sangat membenci cara orang-orang Rusia masa itu yang memuja segala yang datang dari Perancis: bahasanya, perkembangan filsafatnya, dan standar-standar keberadabannya. Kita bisa mendapati kemarahan ini di noveletnya yang berjudul Impian Pamanku dan karya-karyanya yang lain yang dipenuhi dengan kosakata-kosakata Perancis setiap kali ia menggambarkan kehidupan kelas menengah Rusia. Sebagai balasan atas perilaku inferior itu Dostoevsky secara sengaja menuliskan kisah-kisahnya dengan bahasa Rusia sehari-hari, menghindari penggunaan metafora secara vulgar, tak ganjen dengan menenggelamkan perdebatan filosofis yang justru memerosotkan martabat sastra sebagai pusat dunianya, dan langsung menusuk ke dilema-dilema yang dihadapi manusia dalam menghadapi kehidupannya sendiri. Proses kejatuhan martabatnya dalam kehidupan sehari-hari dan ketegangan kreatifnya sebagai penghayat kristen membuat ia bersikap kejam pada dirinya sendiri. Kisah-kisah dalam ceritanya tak hanya tak mau tunduk pada moralitas kristiani yang mengidealisasikan manusia pilihan Tuhan, namun juga menghadirkan tipe manusia yang amoral, laknat, dan tak lebih baik dari binatang jalang dan makhluk seperti setan yang dikutuk oleh semua agama. Pandangan ini tak secara otomatis menafikan kecenderungan Dostoevsky sebagai seorang moralis kristiani. Akhir cerita Mimpi Orang Sinting dan Si Lembut Hati secara jelas menunjukkan idealisasi tipe manusia yang diangankan Dostoevsky.

 

 

 

 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

Buku Rekomendasi