Ia telah menghimpun kata-kata, menghunusnya, lalu bersiaga di udara terbuka, memandang lanskap, menunggu. Ia telah menghimpun kebusukan, menguhunusnya, lalu bersiaga di udara terbuka, memandang lanskap, menunggu. Oleh karena sebab-sebab sudah tidak lagi bisa disusun, oleh karena akibat-akibat sudah tidak lagi bisa disusun, ia kalah. Tak punya keberanian berlebih seperti Karna, tak punya patuh berlebih seperti Ekalaya. Ia kalah. Pulang dengan lunglai, lalu mengendap mencuri koin-koin ibunya untuk kemudian menyusun, menghunus, dan mengulang kebusukan yang sama. Ia kalah lagi. Kini, dalam lunglai, ia mengendap, mengincar koin-koin Anda!

 

“Ketika saya sesekali membaca karya-karya lama saya, termasuk kumpulan cerpen ini, saya bisa merasakan kembali kegembiraan saya dalam menulis, terlebih ketika bisa menyelesaikan sebuah cerpen. Hal yang hampir sama ketika saya usai menulis status facebook . Hanya sayang, dalam status-status itu, saya belum berani memberi cap beberapa di antaranya dengan stempel ‘cerpen’. Belenggu medium dan kurasi  itu tampaknya masih kuat melilit saya. Karena itu pula, saya belum berani menulis cerpen lagi. Setidaknya sampai hari ini.” (Penulis, Puthut EA)